Minggu, 18 Oktober 2009

Perbedaan Itu Membawa Kita Pada Kisah Tak Terlupakan

"Menjadikanmu saudara adalah tujuan awalku ketika pertama aku mengenalmu. Ketika karakterku memusihi karaktermu. Dan ketika pendapat kita tak pernah bertemu.

Tentang pertengkaran yang tak pernah selesai, tentang aku membencimu waktu itu. Sungguh, kalau kau tahu catatanku tentang kamu, mungkin kau akan menunjukkkan lagi gigi taringmu yang dulu".

sebait kata-kata diatas adalah potongan isi surat yang pernah kau kirimkan padaku, saat aku masih belum bisa membaca isi hatimu dan kaupun menunggu isi hatiku, sungguh kita adalah pasangan yang unik.

mungkin memang benar, saat pertama kita jumpa aku memang mirip srigala yang akan menggigitmu, akupun tak pernah menyangka bahwa kau adalah wanita yang akan menyempurnakanku, memberiku semangat, menasehatiku dikala aku tak lagi punya waktu untuk belajar.

21 agustus 2009 itu telah merubah jalan kita, aku tak mengerti mengapa semua ini timbul sedikit demi sedikit dihati kecilku, saat itu semua hadir, aku lebih memilih diam seribu karakter, karena aku berfikir aku lelaki sepertiku bukanlah tipe cewe' manis sepertimu. aku hanya bisa mengikuti seluruh keinginanmu, membahagiakanmu adalah tujuanku waktu itu. akupun tak mau kau tau tentang perasaanku yang selalu memaksaku untuk menjumpaimu dalam kondisi apapun aku.

hari demi hari kita lalui bersama, sejak tanggal itu aku dan kau tidak lagi mempermasalahkan siapa kita sebelum hari ini, kita sepakat pertengkaran yang sudah berlalu tidak akan pernah kita ungkit kembali, aku bahagia dengan komitmen itu, meski kadang kita tak pernah satu arah dan tujuan, namun aku geli rasanya kita aku ingat lagi kisah itu.

yang paling aku ingat dari dirimu adalah ketika wajahmu cemberut dan suaramu yang nyaring ketika berbicara denganku, sungguh terlalu indah senyummu.

ketika kau bercerita tentang orang yang pernah mengisi hatimu dulu aku hanya bisa tertunduk khusu' mendengarkannya, meski aku sadari ada sedikit duri yang menusuk kepori-pori hatiku, aku mencoba bertahan dan tetap bersikap biasa-biasa saja layaknya teman sejati mendengarkan sahabatnya bercerita, namun sadarkah kau, bahwa aku ingin jadi pelindungmu selamanya. dari cerita yang aku dengarkan darimu, sedikit gambaran di otakku adalah "lelaki itu sangat kau cintai dan tak kan pernah ada yang bisa menggantikannya selamanya" dari kesimpulan itu aku merasa pintuku telah tertutup rapat dan kuncinya kau buang jauh kedasar samudra hatimu, sejak waktu itu aku hanya mencoba menjadi "PENGGEMAR GELAPMU" yang selamanya hanya bisa diam dan membisu saat kerinduan ini mulai merong-rong iman dihatiku.

aku berfikir, ini adalah kegagalanku untuk yang kesekian kalinya dalam petualangan rasaku. bagiku, membunuh rasa ini adalah jalan terakhir waktu itu. hingga tiga hari sebelum kau pulang aku sakit dan mungkin dikarenakan pertarungan antara diriku dengan rasaku. sekujur tubuhku panas dan waktu itu aku tidak bisa mengikuti kegiatan yang sedang aku tanggung. aku tak peduli pada sakit yang aku alami waktu itu, yang aku fikirkan bagaimana caranya agar aku bisa menepati janjiku padamu, yaitu aku akan mengantarkanmu pulang. aku berusaha menutupi rasa sakitku padamu, namun tak tau mengapa kau tetap tau tentang sakitku itu dan hingga kau membatalkan niat pulangmu.

seluruh kenangan awal pertemuan kita tak akan pernah aku lupakan, karena bagiku semua terlalu berharga. aku ingin kau abadi dipalung hatiku.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar